Redam Amarah

Berita tentang pembullyan yang lagi viral berhasil menghancurkan rasa malas saya untuk nge-blog, semua yg saya tulis di post ini tentang opini saya terhadap kejadian ini.

Setiap ada berita tentang bully saya tidak bisa semasa bodo berita yg lain, saya membaca kejadian AU dari berbagai media dan sumber, yg saya paham pasti tidak 100% benar, banyak berita atau cerita yg mungkin ditambahin untuk mengakomodir banyak kebutuhan, tapi bagaimanapun cerita sebenarnya hati saya untuknya (AU).

Tak hanya saya yg terluka mendengar berita tentang AU, melainkan hampir semua masyarakat yg mengetahuinya pasti merasakan hal yg sama, kita semua merasakan kesedihan, dan kemarahan hingga menimbulkan berbagai bentuk reaksi, ada yg berlomba-lomba menjenguk AU, memberikan dukungan isi petisi, hingga ada yg beramai ramai mencari dan berkomentar di akun terduga pelaku.

Pada awalnya saya setuju saja terhadap aksi orang-orang terhadap terduga pelaku apalagi ketika melihat tingkah terduga pelaku yg sepertinya tak ada rasa bersalah, wajarlah warganet ngetiknya pedes orang gitu tingkahnya -batin saya.

Namun..

Semakin kesini saya kira semakin menjadi-jadi, kalimat yg diketikkan semakin membuat pedih yg membaca, banyak kata-kata yg semestinya tak ada, apalagi yg mengancam melakukan tindakan yg mengerikan.

Saya menulis ini untuk meminta tolong siapapun yg membaca untuk menyebarkan dan memberikan pemahaman untuk berhenti mengetikkan/mengatakan ujaran kebencian terhadap pelaku, Saya paham dan mengerti atas semua kemarahan yg terjadi, tapi bila kejatan dibalas dengan kejahatan apa bedanya kita dan mereka?..

Bukan berarti ketika kita membela korban ataupun kebenaran semua hal jadi tidak dapat disalahkan, semua seolah-olah dimaklumi, apapun yg dilakukan bisa dimaafkan. Kita tidak bisa melakukannya, dunia tidak semena-mena itu.

Saya hanya salah satu masyarakat yg menginginkan, dan mencoba membantu anak-anak mendapatkan haknya, sekalipun dengan cara sederhana.

Tidak ada yg benar dengan tindakan pelaku, mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatanya dengan mematuhi proses hukum yg berjalan tidak peduli apapun status yg melekat padanya, setelahnya mereka berhak mendapatkan kesempatannya kembali, hidup dan tumbuh semestinya..

Semua anak berhak mendapatkan hak yg sama untuk mendapatkan kedamaian dan pemahaman bahwa dunia tanpa kata kasar, saling hina, saling menjatuhkan jauuuh lebih baik. Semua itu dimulai dari tidak mengetikkan/mengucapkan kalimat yg kita sendiri enggan membaca/mendengarnya.

Terimakasih sudah membaca.

Kunu.

Iklan

4 respons untuk ‘Redam Amarah

  1. Arin berkata:

    Supaya rantai kekerasan verbal, fisik, dll nya itu putus sih ya.

    Memikirkan jangka panjangnya, khawatirnya pelaku terlanjur merasa ‘yaudahlah, sekalian aja rusak’ terus malah jadi (maaf) ‘sampah masyarakat’, nanti malah lebih berpotensi memakan banyak korban khawatirnya.

    Amit2, jangan sampai deh.

    Disukai oleh 1 orang

  2. mhilal berkata:

    Mengikuti medsos kadang memang bikin jengkel.
    Saya memutuskan tidak ikut2an atas peristiwa ini: tidak komentar di medsos, sama sekali.
    Situasi di medsos terlalu “penuh amarah”, tidak sy temukan kejelasan ttg bagaimana kejadian sebenarnya. Msl, kejadian pengeroyokan itu karena masalah cowok, tp siapa cowok tersebut? Pertanyaan ini tidak terjawab di medsos. 😀

    Disukai oleh 1 orang

  3. Desfortin berkata:

    Tulisan yg fair dan menyejukkan. Sy ckup pham dg yg ditulis Mbak Kunu, seharusnya warga lainnya jg sama, bisa meredam geram.

    Oya, menurut saya, yg dialami Mbak Kunu semasa skolah itu termasuk perundungan, sekalipun mungkin terjadi slh pham, tp semua yg berbuat kekerasan dan merugikan pihak lain, bg saya itu perundungan. Dan org yg pernah jadi korban perundungan, biasanya sulit melupakannya. Dan itukan yg dirasakan Mbak Kunu itu. Sy pun sama, dulu msh anak2 pernah mengalami bullying baik dr org yg lebih dewasa maupun dr teman sebaya, sampai skrg sy msh ingat dg jlas, meski sy sdh memaafkan mereka.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s